FLAIL CHEST
RIZKA NURDIANI SINTAN
1110711011
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2012-2013
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “flail
chest”, tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini juga merupakan
penugasan dari mata kuliah respirasi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dalam pembuatan
makalah ini dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dan membantu dalam
pembuatan makalah ini, serta rekan-rekan lain yang membantu pembuatan makalah
ini.
Penulis berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
guna memberikan sifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna mengingat penulis masih
tahap belajar dan oleh karna itu mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dan
kekurangan di dalam penulisan makalah ini.
Jakarta, Oktober
2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Masalah
kesehatan yang berpengaruh terhadap system respirasi
yang menuntut asuhan keperawatan dapat dialami oleh
orang pada berbagai tingkat usia. Bila salah satu organ tersebut mengalami
ganguan maka
akan mengganggu semua system tubuh. Fiail Chest
masih merupakan masalah dalam bidang penyakit paru karena secara signifikan
masih menyebabkan kecacatan dan kematian walaupun sudah ditunjang dengan
kemajuan terapi antibiotik dan drainase rongga pleura maupun dengan tindakan
operasi dekortikasi.
Penyakit tersebut dapat pula disebabkan oleh :
trauma
tumpulpada thorax, misalnya akiabt kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari
ketinggian, tindak kekerasan, atau benturan dengan energi yang besar
Untuk itu Penulis berharap makalah
asuhan keperawatan pada pasin fiail Chest ini dapat membantu mahasiswa atau
masyarakat dalam menangani pasien fiail chest.
TUJUAN
Tujuan
umum:
Tujuan
dalam pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk membantu mahasiswa dalam
dapat mengerti dan memahami fiail chest.
Tujuan
khusus:
1. Mengetahui
pengertian dari fiail chest
2. Menngetahui
penyebab dari fiail chest
3. Mengetahui
tanda dan gejala dari fiail chest
4. Mengetahui
klasifikasi dari fiail chest
5. Mempelajari
asuhan keperawatan fiail
chest
RUMUSAN MASALAH
1) Apa
pengertian fiail chest ?
2) Apa
saja penyebab flail chest?
3) Apa
saja tanda dan gejala yang timbul pada pasien flail chest?
4) Bagaimana
proses perjalanan flail chest?
5) Dan
bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien flail chest?
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN FLAIL CHEST
Adalah area toraks yang
"melayang" (flail) oleh sebab adanya fraktur iga multipel berturutan
= 3 iga , dan memiliki garis fraktur = 2 (segmented) pada tiap iganya.
Akibatnya
adalah: terbentuk area "flail" yang akan bergerak paradoksal
(kebalikan) dari gerakan mekanik pernapasan dinding dada. Area tersebut akan
bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada ekspirasi.
Flail Chest.
terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan
keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel
pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Adanya
semen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan
dinding dada. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai dengan
kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang serius. Kesulitan
utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang mungkin
terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan
gerakan paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini
sendiri saja tidak akan menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada
penderita ini terutama disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada
yang tertahan dan trauma jaringan parunya.
Flail Chest
mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena splinting (terbelat) dengan dinding
dada. Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara asimetris dan
tidak terkoordinasi. Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga
atau fraktur tulang rawan membantu diagnosisi. Dengan foto toraks akan lebih
jelas karena akan terlihat fraktur iga yang multipel, akan tetapi terpisahnya
sendi costochondral tidak akan terlihat. Pemeriksaan analisis gas darah yaitu
adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan, juga membantu dalam diagnosis
Flail Chest. Terapi awal yang diberikan termasuk pemberian ventilasi adekuat,
oksigen yang dilembabkan dan resusitasi cairan.
Bila tidak
ditemukan syok maka pemberian cairan kristoloid intravena harus lebih
berhati-hati untuk mencegah kelebihan pemberian cairan. Bila ada kerusakan
parenkim paru pada Flail Chest, maka akan sangat sensitif terhadap kekurangan
ataupun kelebihan resusitasi cairan. Pengukuran yang lebih spesifik harus
dilakukan agar pemberian cairan benar-benar optimal. Terapi definitif ditujukan
untuk mengembangkan paru-paru dan berupa oksigenasi yang cukup serta pemberian
cairan dan analgesia untuk memperbaiki ventilasi. Tidak semua penderita
membutuhkan penggunaan ventilator. Pencegahan hipoksia merupakan hal penting
pada penderita trauma, dan intubasi serta ventilasi perlu diberikan untuk waktu
singkat sampai diagnosis dan pola trauma yang terjadi pada penderita tersebut
ditemukan secara lengkap. Penilaian hati-hati dari frekuensi pernafasan, tekanan
oksigen arterial dan penilaian kinerja pernafasan akan memberikan suatu
indikasi timing / waktu untuk melakukan intubasi dan ventilasi.
Gangguan Mekanika
Bernapas pada Flail Chest
Fraktur
sternum dengan pergeseran fragmennya menimbulkan nyeri yang menyebabkan
penderita menahan napas sehingga pernapasan menjadi dangkal. Hal ini diperberat
dengan akibat retensi sputum menyebabkan atelektasis, pneumonia yang
menyebabkan gangguan ventilasi, hipoksemia, hiperkarbia dan pada gilirannya
akan menyebabkan insufisiensi pernapasan dan berakhir dengan gagal pernapasan
akut.
Flail
sternum disebut juga central
flail chest, bila berat akan menyebabkan volume intratorasik berkurang sehingga
mengganggu pengembangan paru, ventilasi menurun mengakibatkan hipoksemia dan
hiperkarbia. Gangguan ekspansi paru diakibatkan elastic recoil ke dalam tak tertahankan
sehingga volumenya berkurang. Penekanan ventilasi dan atelektasis akan
menyebabkan terjadinya pintas arteriovenosa (AV) yang memperberat
insufisiensi pernapasan sehingga bila dibiarkan akan berakhir dengan gagal
pernapasan akut.
Nyeri
hebat juga akan menyebabkan
penderita mengurangi gerakan segmen melayang sambil terus menerus berupaya
paksa menarik dan mengeluarkan napas, hal ini terlihat dengan pernapasan cepat
dan dangkal bila dibiarkan akan menyebabkan kelelahan otot-otot pernapasan dan
berakhir dengan gagal pernapasan akut.
Akibat
dari atelektasis, pneumonia, pirau A-V sendiri akan memperberat kerja napas,
hal ini ditunjukkan dengan gambaran gas darah memburuk, suatu tanda gagal
pernapasan akut
ETIOLOGI
1. Disebabkan trauma :
a. Trauma
Tumpul
Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur costa antara lain : Kecelakaan lalulintas,kecelakaan pada pejalan kaki ,jatuh dari ketinggian, atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat perkelahian.
b.
Truma Tembus
Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa :Luka tusuk dan luka tembak
c.
Disebapkan bukan trauma
Yang dapat mengakibatkan fraktur costa ,terutama akibat gerakan yang menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh karena adanya gerakan yang berlebihan dan stress fraktur,seperti pada gerakan olahraga : Lempar martil, soft ball, tennis, golf.
2. Insidensi
Trauma adalah penyebab kematian
utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol
dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta
trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001)
3.
Prognosis Penyakit
1. Open
Pneumothorak
Timbul karena trauma tajam, ada
hubungan dengan rongga pleura sehingga paru menjadi kuncup. Seringkali terlihat
sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi ( sucking
chest wound ). Apabila luban ini lebih besar dari pada 2/3 diameter trachea,
maka pada inspirasi udara lebih mudah melewati lubang dada dibandingkan melewati
mulut sehingga terjadi sesak nafas yang hebat
2.
Tension Pneumothorak
Adanya udara didalam cavum pleura
mengakibatkan tension pneumothorak. Apabila ada mekanisme ventil karena lubang
pada paru maka udara akan semakin banyak pada sisi rongga pleura, sehingga
mengakibatkan :
Ø Paru sebelahnya
akan terekan dengan akibat sesak yang berat
Ø Mediastinum
akan terdorong dengan akibat timbul syok
Pada perkusi terdengar hipersonor
pada daerah yang cedera, sedangkan pada auskultasi bunyi vesikuler menurun.
3. Hematothorak
masif
Pada keadaan ini terjadi perdarahan
hebat dalam rongga dada. Ada perkusi terdengar redup, sedang vesikuler menurun
pada auskultasi.
4.
Flail Chest
Tulang iga patah pada 2 tempat pada
lebih dari 2 iga sehingga ada satu segmen dinding dada yang tidak ikut pada
pernafasan. Pada ekspirasi segmen akan menonjol keluar, pada inspirasi justru
masuk kedalam yang dikenal dengan pernafasan paradoksal
PATOFISIOLOGI
Dada merupakan organ besar yang membuka bagian dari
tubuh yang sangat mudah terkena tumbukan luka. Karena dada merupakan tempat
jantung, paru dan pembuluh darah besar. Trauma dada sering menyebabkan gangguan
ancaman kehidupan. Luka padarongga thorak dan isinya dapat membatasi kemampuan
jantung untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk pertukaran udara dan
osigen darah. Bahaya utama berhubungan dengan luka dada biasanya berupa
perdarahan dalam dan tusukan terhadap organ Luka dada dapat meluas dari
benjolan yang relatif kecil dan goresan yang dapat mengancurkan atau terjadi trauma penetrasi. Luka
dada dapat berupa penetrasi atau non penetrasi ( tumpuln ). Luka dada penetrasi mungkin
disebabkan oleh luka dada yang terbuka, memberi kesempatan bagi udara atmosfir
masuk ke dalam permukaan pleura dan mengganggua mekanisme ventilasi normal. Luka
dada penetrasi
dapat
menjadi kerusakan serius bagi paru, kantung dan struktur thorak lain
MANIFESTASI KLINIS
Biasanya karena ada pembengkakan jaringan lunak di sekitar dan terbatasnya gerak pengembangan dinding dada, deformitas, dan gerakan paradoksal flail chest yang ada akan tertutupi. Pada mulanya, penderita mampu mengadakan kompensasi terhadap pengurangan cadangan respirasinya. Namun bila terjadi dan penurunan daya pengembangan paru-paru akan terjadi anoksia berat, hiperkapnea, dan didapat akral dingin positif dan wajah yag pucat karena oksigen aliran darah ke daerah perifer berkurang akibat penurunan ekspansi paru..Pada pasien flail chest akan didpat nyeri yang hebat karen terputusnya inegritas jaringan
PEMERKSAAN PENUNJANG
Radiologi : X-foto
thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)
• Gas darah
arteri (GDA), mungkin normal atau menurun.
• Torasentesis : menyatakan
darah/cairan serosanguinosa.
• Hemoglobin : mungkin menurun.
• Pa Co2 kadang -kadang menurun.
• Pa O2 normal / menurun.
• Saturasi O2 menurun
(biasanya).
• Toraksentesis : menyatakan darah/cairan
•Bila
pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi
• Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleuradengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.
• Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleuradengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.
• Pada keadaan pneumothoraks yang
residif lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi
• Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 ccsegera thorakotom
• Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 ccsegera thorakotom
KOMPLIKASI
Komplikasi utama adalah gagal napas,
sebagai akibat adanya ineffective air movement, yang seringkali diperberat oleh
edema/kontusio paru, dan nyeri. Pada pasien dengan flail chest tidak
dibenarkan melakukan tindakan fiksasi pada daerah flail secara eksterna,
seperti melakukan splint/bandage yang melingkari dada, oleh karena akan
mengurangi gerakan mekanik pernapasan secara keseluruhan.
Indikasi Operasi (stabilisasi) pada
flail chest
o Bersamaan
dengan Torakotomi karena sebab lain (cth: hematotoraks masif, dsb).
o Gagal/sulit
weaning ventilator.
o Menghindari
prolong ICU stay (indikasi relatif).
o Menghindari
prolong hospital stay (indikasi relatif).
o Menghindari
cacat permanent.
Tindakan
operasi adalah dengan fiksasi fraktur iga sehingga tidak didapatkan lagi area
"flail"
Trauma hancur pada sternum atau iga dapat berakibat
terjadinya pemisahan total dari suatu bagian dinding dada, sehingga dinding
dada tersebut bersifat lebih mobil. Pada setiap gerakan respirasi, maka fragmen
yang mobil tersebut akan terhisap ke arah dalam. Pengembangan normal rongga
pleura tidak dapat lagi berlangsung, sehingga pertukaran gas respiratorik yang
efektif sangat terbatas.
PENATALAKSAAN
Tindakan stabilisasi yang bersifat sementara terhadap dinding dada akan sangat menolong penderita, yaitu dengan menggunakan towl-clip traction atau dengan menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah dengan pembedahan. Takipnea, hipoksia, dan hiperkarbia merupakan indikasi untuk intubasi endotrakeal dan ventilasi dgn tekanan positif.
Stabilisasi eksternal dapat dilakukan dengan merekatkan bantalan, gulungan pakaian atau kantong IV diatas segmen yang longgar sehingga ia dipertahankan di dalam. Maka gerakan keluar menjadi tidak mungkin.Sedangkan stabilitas internal dengan memasang pipa endotrakea yang memberi fentilasi tekanan positif
1.
Bullow Drainage / WSD
Pada
trauma toraks, WSD dapat berarti :
a.
Diagnostik :
Menentukan
perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan
perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock.
b.
Terapi :
Mengeluarkan
darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga
pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang
seharusnya.
c.
Preventive :
Mengeluarkan
udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of
breathing" tetap baik.
2.
Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a. Mencegah infeksi
di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di
bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu
diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak
boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b. Mengurangi rasa sakit
dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh
dokter.
c.
Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
v Penetapan slang.
Slang
diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan
bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat
dikurangi.
v Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa
enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang,
melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau
menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.
d.
Mendorong berkembangnya paru-paru.
§
Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.
§
Latihan napas dalam.
§
Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk,
jangan batuk waktu slang diklem.
§
Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.
e.
Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan
dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam
melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan
bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.
f.
Suction harus berjalan efektif :
§ Perhatikan setiap 15 - 20 menit
selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah
operasi.
§ Perhatikan banyaknya cairan, keadaan
cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan
darah.
§ Perlu sering dicek, apakah tekanan
negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi
pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring
bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh
gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh
karena perlekatanan di dinding paru-paru.
g.
Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.
ü Cairan dalam botol WSD diganti
setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.
ü Setiap hendak mengganti botol
dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow
drainage.
ü Penggantian botol harus
"tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem"
slang pada dua tempat dengan kocher.
ü Setiap penggantian botol/slang harus
memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril.
ü Penggantian harus juga memperhatikan
keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.
ü Cegah bahaya yang menggangu tekanan
negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena
kesalahan dll.
h.
Dinyatakan berhasil, bila :
ª Paru sudah mengembang penuh pada
pemeriksaan fisik dan radiologi.
ª Darah cairan tidak keluar dari WSD /
Bullow drainage.
ª Tidak ada pus dari selang WSD.
3.
Therapy
·
Chest tube / drainase udara (pneumothorax)
·
WSD (hematotoraks)
·
Pungsi.
·
Torakotomi.
·
Pemberian oksigen
·
Antibiotika.
·
Analgetika.
·
Expectorant.
ASUHAN KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
DATA
SUBJEKTIF
|
DATA
OBJEKTIF
|
-Pasien mengeluhkan
sesak napas
-Pasien mengeluh nyeri yang hebat dan bertambah pada
setiap gerakan.
|
Tanda-tanda
vital:
TD:
130/90 mmHg
RR: 26 x/menit
N
: 120x/menit
|
Data
yang perlu dikaji :
-
Data Subjektif
o
Kemungkinan
pasien mengeluh cemas dan takut akan kematian
o
Kemungkinan
timbul keluhan lemah dan lelah
o
Kemungkinan
pasien merasakan denyut jantung nya bertambah cepat
o
Kemunkinan
pasien merasa mual
-
Data Objektif
o
Pada
Pemeriksaan Fisik kemungkinan ditemukan :
§
Penurunan suara napas
§
Penurunan
perfusi jaringan.
o
Kemungkinan
ditemukan kulit pucat dan sianosis
o
Kemungkinan ditemukan kesulitan untuk bersuara
o
Kemungkinan
ditemukan akral dingin
o
Kemunkinan
ditemukan odema di daerah trauma
o
Kemunkinan
ditemukan infeksi didaerah luka.
2.
Diagnosa Keperawatan
DATA FOKUS
|
PROBLEM
|
ETIOLOGI
|
DS :
·
Pasien mengeluhkan napas pendek
·
Pasien mengeluhkan sesak napas
·
Pasien mengeluh nyeri
yang hebat dan bertambah pada setiap
gerakan
DO :
·
Pemeriksaan fisik :
-TD:
130/90 mmHg
-RR: 26 x/menit
-N : 120x/menit
-
Penurunan fremitus
-
Auskultasi terdengar bunyi
crackles
·
Perubahan gerakan dada.
·
Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi.
·
Penurunan ventilasi semenit.
·
Penurunan kapasitas vital.
·
Napas dalam.
·
Peningkatan diameter anterior-posterior.
·
Ortopnea.
·
Fase ekspirasi yang lama.
·
Pernapasan purset-lip.
·
Kecepatan respirasi.
·
Rasio waktu.
|
Ketidak efektifan pola napas
|
Sesak napas
|
DS :
·
Mengungkapakan secara verbal / melaporkan dengan
isyarat.
DO :
·
Gerakan menghindari nyeri.
·
Posisi menghindari nyeri.
·
Perubahan autonomik dari tonus otot.
·
Perubahan nafsu makan dan makan.
·
Perilaku menjaga atau melindungi.
|
Gangguan rasa nyaman
|
Nyeri dada
|
DS :
·
Kemunkinan pasien Mual
DO :
·
Kulit memerah /odema
·
Frekuensi napas meningkat
·
Takikardi
|
Hypertermi
|
Infeksi saluran napas
|
3.
Intervensi
Dx
|
TUJUAN DAN KRITERIA
HASIL
|
INTERVENSI KEPERAWATAN
|
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
1). Ketidak efektifan pola
pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena
trauma.
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat menunjukan:
-Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
-Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
-Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
|
Mandiri :
1).Berikan
posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke
sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
2). Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan
untuk menjamin keamanan.
3).Kolaborasi:
-radiologi dan fisioterapi.
o -Pemberian antibiotika.
o -Pemberian analgetika.
o -Fisioterapi dada.
o -Konsul photo toraks.
|
1).Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan
ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
·
Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital.
2). Pengetahuan
apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana
teraupetik.
·
Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan
menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. 3).Mengevaluasi perbaikan
kondisi klien atas pengembangan parunya.
|
2). Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b.d trauma jaringan
dan reflek spasme otot sekunder..
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat:
• Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
• Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan nyeri.
• Pasien tidak gelisah.
|
Mandiri:
1). Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri
nonfarmakologi dan non invasif.
2). Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan
ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga
tingkatkan relaksasi masase.
3). Ajarkan metode
distraksi selama nyeri akut.
Kolaborasi :
4).pemberian analgetik.
|
1).Pendekatan dengan menggunakan relaksasi
dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
2). Akan melancarkan
peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga
akan mengurangi nyerinya.
3). Mengalihkan perhatian
nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
4). Analgetik memblok
lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.
|
3). Risiko terhadap
infeksi b.d tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma.
|
Setelah dilakukan tindakkan
keperawatan selam 3x24 jam , diharapkan:
• tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
• luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
• Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
|
Mandiri :
1). Pantau
tanda-tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka
dengan teknik aseptik.
3). Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti
infus, kateter, drainase luka, dll.
Kolaborasi :
4).pemberian
antibiotik.
|
1).mengidentifikasi
tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
2). 2).mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
2).3). untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. 4).antibiotik mencegah perkembangan
mikroorganisme patogen.
2
|
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Flail Chest terjadi ketika segmen
dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada. Kesulitan
utama yaitu kontusio paru yang menyertai. Hipoksia terutama karena nyeri dan
trauma jaringan parunya. Terapi awal yaitu ventilasi yang adekuat dan cairan O2..
Terapi definitif ditujukan pada pengembangan paru, oksigenasi, cairan yang
cukup serta analgesia. Tekanan oksigen arterial dan kinerja pernapasan
penilaiannya menentukan kapan diberi intubasi dan ventilasi.
Saran
Dalam pembahasan teori dan asuhan
keperawatan tentang Flail Chest, diharapkan mahasiswa mampu memahami,
mengetahui , dan menjelaskan tentang asuhan keperawatan Flail Chest beserta
pengaplikasiannya dalam dunia keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Brunner & Suddarth.2000.Keperawatan Medikal
Bedah.Jakarta:EGC
2. Somantri Irman.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Gangguan Sistem Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika
3. Doenges,
Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.
4. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
4. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar