FLU BURUNG
RIZKA NURDIANI SINTAN
1110711011
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa kami panjatkan atas limpahan rahmat dan berkahnya yang diberikan kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Flu Burung”. Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Sistem Respirasi . Terimakasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya makalah yang lebih baik lagi.
Jakarta, Oktober 2013
Tim Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Flu burung (Avian Influenza, AI) merupakan infeksi yang
disebabkan oleh virus influenza A subtype H5N1 (H=hemagglutinin;
N=neuraminidase) yang pada umumnya menyerang unggas (burung dana yam).Pada buku
ini yang dibahas adalah flu burung yang disebabkan oleh virus influenza
Asubtipe H5N1 pada manusia. Pada tahun
1997 infeksi Flu burung telah menular dari unggas ke manusia dan sejak saat itu
telah terjadi 3 kali outbreak infeksi virus influenza A subtype H5N1.
Flu burung pada manusia pertama kali ditemukan di Hongkong pada tahun 1997 yang
menginfeksi 18 orang diantaranya 6 orang pasien meninggal dunia. Kemudian awal
tahun 2003 ditemukan 2 orang pasien dengan 1 orang meninggal.
Virus ini kemudian merebak di Asia sejak pertengahan Desember 2003
sampai sekarang. Berdasarkan hal tersebut di atas maka disimpulkan bahwa AI
selain menyerang unggas dapat juga menyerang manusia. Di Indonesia, virus ini
menyerang ternak ayam sejak Oktober 2003 sampai Februari 2004 dan dilaporkan
sebanyak 4,7 juta ayam mati namun belum menyerang manusia.
Berdasarkan
data Departemen Kesehatan RI tanggal 26 November 2006 di Indonesia terdapat 74
Kasus konfirmasi dan 56 orang diantaranya meninggal ( CFR 75,7%). Berdasarkan
kajian pakar Virus H5N1
merupakan salah satu virus yang paling mungkin menyebabkan pandemi influenza
yang diperkirakan dapat menimbulkan kematian puluhan sampai ratusan juta
manusia di dunia selama masa pandemi. Sampai saat ini Indonesia telah masuk
dalam fase 3 atau waspada pandemic yaitu ada infeksi dari unggas kemanusia
sedang kan penularan dari manusia kemanusia tidak ada atau penularan yang
sangat terbatas hanya pada kontak erat. Departemen Kesehatan RI bersama
profesi-profesi terkait (PDPI, PAPDI, , IDAI, IDSAI, PDS PATKLIN, dan PAMKI
serta PPNI).
Menyusun
Pedoman Penatalaksanaan Flu Burung di Rumah Sakit agar dapat dipakai
sebagai acuan oleh petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan medis kepada
pasien flu burung.
1.2
TUJUAN
1. Tujuan
Umum
Sebagai acuan tatalaksanaan flu burung di Rumah Sakit dalam rangka
meminimalkan kesakitan, kematian dan penyebarannya.
2. Tujuan
Khusus
·
Memberi informasi tentang
pengertian umum flu burung dan cara penularannya.
·
Memberi petunjuk penegakan
diagnosis di Rumah Sakit.
·
Memberi petunjuk penatalaksanaan
pasien flu burung di Rumah Sakit.
·
Memberi petunjuk pemulangan
pasien flu burung yang dirawat dan tindak lanjutnya (follow-up).
·
Memberi petunjuk penatalaksanaan
pasien flu burung yang meninggal dunia.
1.3 RUANG
LINGKUP
Ruang lingkup pelayanan sebagai tersebut di
pedoman ini adalah pelayanan di Rumah Sakit.
1.4
DASAR HUKUM
·
Undang – Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
·
Undang – Undang Nomor 4 Tahun
1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3273).
·
Undang – Undang Nomor 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3495).
·
Peraturan Pemerintah Nomor 40
Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara
Tahun1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3447).
·
Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun
2005 tentang Kedudukan,Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata kerja
Kementerian Negara Republik Indonesia, sebagai mana telah beberapa kali dirubah
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005.
·
Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit Tertentu yang Dapat Menimbulkan
Wabah, Tata Cara Penyampaian Laporandan Tata Cara Penanggulangannya.
·
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1372/Menkes/SK/IX/2005 tentang Penetapan Kondisi Kejadian Luar Biasa
(KLB) Flu Burung.
·
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang
Penetapan Flu Burung Sebagai Penyakit Yang Dapat Menimbulkan Wabah serta
Pedoman Penanggulangannya.
·
Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1643/Menkes/SK/XII/2005 tentang Tim Nasional Penanggulangan Penyakit Flu Burung
·
Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 756/Menkes/SK/IX/2006 tentang Pembebasan Biaya Pasien Penderita Flu
Burung.
1.5 RUMUAN MASALAH
1) Apa
pengertian flu burung?
2) Apa
saja penyebab flu burung?
3) Apa
saja tanda dan gejala yang timbul pada pasien
maupun unggas yang terkena flu burung?
4) Bagaimana
proses perjalanan flu burung ?
5) Apa
saja pemeriksaan diagnostic yang dilakukan?
6) Bagaimana
cara pencegahan flu burung ?
7) Bagaimana
cara penularan flu burung ?
8) Bagaimana
mengetahui derajat penyakit dari flu burung?
9) Bagaimana
cara mengatasi dengan pengobatan flu burung?
10) Dan
bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien flu burung?
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Flu
burung adalah suatu penyakit menular yang di sebabkan oleh virus influenza yang
di tularkan oleh unggas dan dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit
ini antara lain avian influenza.
B. ETIOLOGI
Virus influenza tipeA merupakan anggota
keluarga orthomyxoviridae. Padapermukaan virus tipeA, ada 2
glikoprotein, yaitu hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Subtipe
berdasarkan sifat H (H1 sampai H16) dan N (N1 sampai N9). Virus influenza pada
unggas mempunyai sifat dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220
C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00 C. Di dalam tinja unggas dan
dalam tubuh unggas sakit, dapat hidup lama, tetapi mati pada pemanasan 600
C selama 30 menit, 560 C selama 3 jam dan pemanasan 800 C
selama 1 menit. Virus akanmatidengandeterjen, desinfektan misalnya formalin,
cairan yang mengandung iodin atau alkohol 70%. Virus H5N1 dapat bermutasi
sehingga dapat menjadi virus penyebab pandemi.
C. TANDA
DAN GEJALA
a)
Masa Inkubasi
Pada Unggas :
1 minggu
Pada Manusia :
1 – 7 hari (rata-rata 3 hari.)
Masa infeksi 1 hari sebelum, sampai 3 - 5 hari sesudah
timbul gejala, pada anak sampai 21 hari.
b)
Gejala flu burung
pada unggas dan manusia :
1)
Gejala pada unggas
·
Jengger berwarna
biru
·
Pendarahan merata
pada kaki yang berupa bintik-bintik merah atau sering terdapat borok di kaki
yang disebut dengan ”kaki kerokan”.
·
Adanya cairan pada
mata dan hidung sehingga terjadi gangguan pernapasan
·
Keluar cairan jernih
sampai kental dari rongga mulut
·
Diare
·
Haus berlebihan dan
cangkang telur lembek
·
Kematian mendadak
dan sangat tinggi jumlahnya mendekati 100% dalam waktu 2 hari, maksimal 1
minggu
2)
Gejala pada manusia
Gambaran klinis pada manusia yang terinfeksi flu burung
menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa. Diawali dengan demam, nyeri otot,
sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala dan pilek. Dalam perkembangannya kondisi
tubuh sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa
meninggal karena berbagai komplikasi misalnya terjadinya gagal napas karena
pneumonia dan gangguan fungsi tubuh lainnya karena sepsis.
D. PATOFISIOLOGI
Flu
burung
Tahap
1 sistem imune annate akan hambat replikasi virus
Menyebabkan
gejala seperti demam, malaise
Terjadi
pneumonia intertitial
ARDS
( acute respiratory distreas sindrome )
Hipoksia
Penderita
dapat meninggal
E. PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
a) Pemeriksaan
Laboratorium
Setiap pasien yang datang dengan gejala klinis seperti di atas
dianjurkan untuk sesegera mungkin dilakukan pengambilan sampel darah untuk
pemeriksaan darah rutin (Hb, Leukosit, Trombosit, Hitung Jenis Leukosit),
spesimen serum, aspirasi nasofaringeal, apus hidung dan tenggorok untuk
konfirmasi diagnostik. Diagnosis flu burung dibuktikan dengan :
·
Uji RT-PCR (Reverse
Transcription Polymerase Chain Reaction) untuk H5N1.
·
Biakan dan identifikasi virus
Influenza A subtipe H5N1.
·
Uji Serologi :
a. Peningkatan
>4 kali lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari spesimen konvalesen
dibandingkan dengan spesimen akut ( diambil <7 hari setelah awitan gejala
penyakit), dan titer antibodi netralisasi konvalesen harus pula >1/80.
b. Titer
antibodi mikronetralisasi H5N1 >1/80 pada spesimen serum yang diambil pada
hari ke >14 setelah awitan (onset penyakit) disertai hasil positif uji
serologi lain, misalnya titer HI sel darah merah kuda >1/160 atau western
blot spesifik H5 positif.
Pemeriksaan
lain dilakukan untuk tujuan mengarahkan diagnostik ke arah kemungkinan flu
burung dan menentukan berat ringannya derajat penyakit. Pemeriksaan yang
dilakukan adalah :
·
Pemeriksaan Hematologi :
Hemoglobin, leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit, limfosit
total. Umumnya ditemukan leukopeni, limfositopeni dan trombosit openi.
·
Pemeriksaan Kimia darah :
Albumin, Globulin, SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin, Kreatin Kinase,
Analisis Gas Darah. Umumnya dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT dan
SGPT, peningkatan ureum dan kreatinin, peningkatan Kreatin Kinase, Analisis Gas
Darah dapat normal atau abnormal. Kelainan laboratorium sesuai dengan
perjalanan penyakit dan komplikasi yang ditemukan.
b)
Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan foto toraks PA dan Lateral harus dilakukan pada setiap
tersangka flu burung. Gambaran infiltrat di paru menunjukkan bahwa kasus ini
adalah pneumonia. Pemeriksaan lain yang dianjurkan adalah pemeriksaan CT Scan
untuk kasus dengan gejala klinik flu burung tetapi hasil foto toraks normal
sebagai langkah diagnostik dini.
c)
Pemeriksaan Post Mortem
Pada pasien yang meninggal sebelum diagnosis flu burung tertegakkan,
dianjurkan untuk mengambil sediaan postmortem dengan jalan biopsi pada mayat (necropsi),
specimen dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi dan PCR.
F.
CARA PENCEGAHAN
·
Hindarilah
terpapar/terkena cairan yang ada pada paruh, hidung dan mata unggas yang sakit.
·
Anak-anak mudah
tertular flu burung. Jauhkan dan jangan dibiarkan bermain dengan unggas, telur,
bulu unggas, dan lingkungan yang tercemar kotoran unggas.
·
Buang dan timbunlah
dengan tanah, kotoran unggas yang ada disekitar rumah.J
·
Jangan memegang
unggas yang mati mendadak tanpa sarung tangan, penutup
hidung/mulut,sepatu/penutup kaki. Sebaiknya segera kubur unggas itu.
·
Cuci daging dan
telur unggas sebelum dimasak atau disimpan di kulkas.
·
Masaklah daging dan
telur unggas sampai matang sebelum dimakan. Virus flu burung bisa menular
melalui telur atau daging unggas yang tidak dimasak sampai matang.
·
Jangan mengkonsumsi
daging unggas yang terkena flu burung.
·
Bangkai unggas
jangan dijual/dimakan. Segera kubur agar penyakitnya tidak menular ke unggas
lain, anda sendiri, keluarga dan tetangga serta masyarakat luas.
·
Jauhkan kandang
unggas dari rumah tinggal. Kandangkan unggas dalam kurungan agar tidak tertular
penyakit dari unggas lain.
·
Pakai penutup
hidung/masker dan kacamata renang (goggle) jika berada dipeternakan ayam atau
unggas berkumpul.
·
Cuci tangan dengan
sabun setelah memegang unggas atau telur. Mandi dan cuci pakaian setelah
mengubur unggas mati.
·
Bila ada yang merasa
terkena flu, badan panas, pusing, sesak napas setelah ada unggas mati mendadak,
segera pergi ke Puskesmas atau dokter. Jangan sampai terlambat.
G.
CARA
PENULARAN
Penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui
:
·
Binatang
Kontak langsung dengan unggas atau binatang lain yang sakit atau produk
unggas yang sakit.
·
Lingkungan
Udara atau peralatan yang tercemar virus tersebut baik yang berasal dari
tinja atau secret unggas yang terserang Flu Burung.
·
Manusia
Sangat terbatas dan tidak efisien (ditemukannya beberapa kasus dalam kelompok
/ cluster).
·
Makanan
Mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna
di wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau manusia yang
terinfeksi H5N1 dalam satu bulan terakhir.
H.
DERAJAT PENYAKIT
Pasien yang telah dikonfirmasi sebagai kasus
flu burung dapat dikategorikan menjadi :
·
Derajat 1 : Pasien tanpa
pneumonia
·
Derajat 2 : Pasien dengan
pneumonia ringan tanpa gagal napas
·
Derajat 3 : pasien dengan
pneumonia berat dan gagal napas
·
Derajat 4 : Pasien dengan
pneumonia berat dan ARDS atau dengan kegagalan organ ganda (multiple organ
failure).
I.
PENATALAKSANAAN MEDIS
a)
Antiviral
diberikan secepat mungkin (48 jam pertama) :
o
Dewasa atau anak ≥ 13 tahun Oseltamivir
2x75 mg per hari selama 5 hari.
o
Anak > 1 tahun dosis
oseltamivir 2 mg/kgBB, 2 kali sehari selama 5 hari.
o
Dosis oseltamivir dapat
diberikan sesuai dengan berat badan sbb :
> 40 kg : 75 mg 2x/hari
> 23 – 40 kg : 60 mg 2x/hari
> 15 – 23 kg : 45 mg 2x/hari
≤ 15 kg : 30 mg 2x/hari
·
Pada percobaan binatang tidak
ditemukan efek teratogenik dan gangguan fertilitas pada penggunaan oseltamivir.
Saat ini belum tersedia data lengkap mengenai kemungkinan terjadi malformasi
atau kematian janin pada ibu yang mengkonsumsi oseltamivir. Karena itu
penggunaan oseltamivir pada wanita hamil hanya dapat diberikan bila potensi
manfaat lebih besar dari potensi risiko pada janin.
b) Profilaksis
Profilaksis 1x75 mg diberikan pada kelompok risiko tinggi terpajan
sampai 7-10 hari dari pajanan terakhir. Penggunaan profilaksis jangka panjang
dapat diberikan maksimal hingga 6-8 minggu sesuai dengan profilaksis pada
influenza musiman.
c)
Pengobatan lain
·
Antibiotik spektrum luas yang
mencakup kuman dan atipikal (lihat lampiran 2 petunjuk penggunaan antibiotik).
·
Metilprednisolon 1-2 mg/kgBB IV
diberikan pada pneumonia berat, ARDS atau pada syok sepsis yang tidak respons
terhadap obat-obat vasopresor.
·
Terapi lain seperti terapi
simptomatik, vitamin, dan makanan bergizi.
·
Rawat di ICU sesuai indikasi.
J.
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
(Meliputi nama, umur, alamat, pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin dan
penanggung jawab).
2.
Riwayat
kesehatan sekarang
·
Demam
·
Sesak napas
·
Batuk
·
Pilek
·
Sakit tenggorokan
·
Diare
3.
Riwayat
kesehatan masa lalu
·
Riwayat pernah sakit paru
·
Riwayat sakit lain
4.
Riwayat
kesehatan keluarga
·
Riwayat sakit turunan
·
Riwayat sakit yang sama dengan
pasien
·
Riwayat sakit paru dalam
keluarga
·
Genogram
5.
Riwayat
perjalanan
Dalam waktu 7 hari sebelum timbulnya gejala :
·
Melakukan kunjungan ke daerah
atau bertempat tinggal di wilayahyang
terjangkit flu burung
·
Mengkonsumsi unggas sakit
·
Kontak dengan unggas / orang
yang positif flu burung
6.
Kondisi
lingkungan rumah
·
Dekat dengan pemeliharaan unggas
·
Memelihara unggas
7.
Kebiasaan
sehari-hari (aktivitas)
·
Waktu bekerja
·
Jenis pekerjaan
·
Kebersihan diri (kebiasaan
mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan)
8.
Pemeriksaan
fisik
·
Status neurologi
a) Tingkat
kesadaran ( CM - Somnolent - Apatis -
Sopor )
·
Glasgow Coma Scale (GCS)
a)
Eye ( Motorik - Verbal )
·
Status respirasi
a) Jalan
Napas
b) Pernapasan
c) Frekuensi
Pernapasan
d) Irama
Napas
e) Jenis
Pernapasan
f) Batuk
g) Sputum
h) Konsistensi
i)
Suara Napas
j)
Palpasi Dada
k) Perkusi Dada
l)
Nyeri saat bernapas
m) Menggunakan
alat bantu pernapasan
·
Status kardiovaskuler
a) Nadi
b) Irama
c) Denyut
d) Tekanan
darah
e) Distensi
vena jugularis
f) Warna
kulit
g) Pengisian
kapiler
h) Kelainan
bunyi jantung
i)
Sakit dada
·
Gastrointestinal
a) Keadaan
mulut
b) Gigi
c) Stomatitis
d) Lidah
kotor
e) Saliva
f) Muntah
g) Nyeri
daerah perut
h) Bising
Usus
i)
Diare
j)
Konstipasi
·
Ekstremitas
a) Kesulitan
dalam pergerakan :
b) Keadaan
tonus otot :
c) Kekuatan
otot :
·
Pemeriksaan penunjang
a) Laboratorium
meliputi darah lengkap, AGD, kimia darah, serologi, PCR, Widal, IgM, IgG,
mikrobiologi, pemeriksaan anti HIV, kultur, BTA.
b) Radiologi
meliputi foto toraks dan CT-Scan
·
Terapi pengobatan
(Terapi yang diberikan merupakan hasil kolaborasi dengan dokter)
·
Riwayat psikososial dan
spiritual
a) Dampak
penyakit pasien terhadap keluarga
b) Persepsi
terhadap penyakit
c) Masalah
yang mempengaruhi pasien
d) Mekanisme
koping
e) Sistem
nilai kepercayaan
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN FLU BURUNG
no
|
Diagnosis keperawatan
|
Tujuan dan kriteria hasil
|
Intervensi keperawatan
|
rasional
|
1
|
Bersihan
jalan napas tidak
efektif
b.d peningkatan
produksi
sputum, penurunan
energi,
kelemahan
DS :
DO :
o Ronki
o
Mengi
o
Jalan napas terdapat
sekret
o
Bunyi napas tidak normal
: …..
o
Frekuensi napas :
…x/menit
|
Jalan
napas kembali efektif
dengan
kriteria hasil :
o
Frekuensi napas dalam batas
normal
(16–20 x/mnt)
o
Bunyi napas vesikuler
o
Bernapas tidak menggunakan
alat
bantu napas
o
Tidak ada dispnea dan
sianosis
|
• Kaji frekuensi /
kedalaman
pernapasan
& gerakan dada
• Auskultasi area paru,
catat
adanya
ronki, mengi, dan
krekels.
• Observasi & catat
batuk
yang
berlebihan,
peningkatan
frekusensi
napas,
sekret yang
berlebihan.
• Penghisapan sesuai
dengan
Indikasi
• Berikan cairan
sedikitnya
2500
ml/ hari
• Bantu mengawasi efek
penggunaan
nebulizer.
• Berikan obat sesuai
indikasi:
Mukolitik,
ekspektoran,
bronkodilator, analgesik.
|
• Takipnea, pernapasan
dangkal
dan gerakan
dada
tidak simetris
karena
ketidaknyamanan
gerakan
dinding dada.
• Penurunan aliran udara
terjadi
pada area
konsolidasi
dengan
cairan
• Batuk adalah mekanisme
pembersihan
jalan napas
secara
alami
• Merangsang batuk atau
pembersihan
secara
alami
• Cairan yang hangat
memobilisasi
dan
mengeluarkan
secret
• Memudahkan
pengenceran
dan
pembuangan
secret
• Obat untuk menurunkan
spasme
bronkus dengan
mobilisasi sekret
|
2
|
Gangguan
pertukaran gas
b.d
perubahan membran
alveolar,
gangguan kapasitas
pembawa
O2 darah,
gangguan
pengiriman O2
|
Menunjukkan
perbaikan ventilasi
dengan
kriteria hasil :
o
Oksigenasi jaringan dengan
AGD
dalam rentang normal
o Tak
ada distress pernafasan
|
• Kaji frekuensi, kedalaman
dan kemudahan bernapas
• Observasi warna kulit,
membran
mukosa dan kuku,
catat
adanya sianosis
• Awasi suhu tubuh, bantu
tindakan
kenyamanan untuk
menurunkan
demam
• Observasi penyimpangan
kondisi,
catat hipotensi,
banyaknya
jumlah sputum,
perubahan
tingkat kesadaran.
• Berikan terapi O2
dengan
Benar
• Awasi AGD dan Saturasi
Oksigen
dengan pulse
oksimeter
|
• Manifestasi distress
pernapasan
tergantung
pada
derajat keterlibatan
paru
dan status
kesehatan
umum
• Sianosis kuku menunjukkan
vasokonstriksi,
sianosis
membran
mukosa
menunjukkan
hipoksemia
sistemik
• Demam tinggi sangat
meningkatkan
kebutuhan
metabolik
dan O2
• Syok dan edema paru
adalah
penyebab umum
kematian
pada
pneumonia
• Mempertahankan PaO2
diatas
60 mmHg
• Mengevaluasi proses
penyakit
dan memudahkan
terapi
paru
|
3
|
Resiko
tinggi penularan
infeksi
b.d proses penyakit
|
Pencegahan
penularan infeksi
dengan
kriteria hasil :
o
Tidak terdapat tanda – tanda
penularan
infeksi dari pasien
ke
pasien lain, keluarga dan
petugas
kesehatan.
o
Mencapai waktu perbaikan
infeksi
berulang tanpa
komplikasi
|
• Pantau ketat tanda-tanda
vital, khususnya pada awal
terapi
• Anjurkan pasien
memperhatikan pengeluaran
sputum dan melaporkan
perubahan warna, jumlah
dan bau sputum
• Cegah penyebaran infeksi
dari pasien lain, keluarga
dan petugas kesehatan
dengan mencuci tangan
secara konsisten sebelum
dan sesudah kontak dengan
pasien serta menggunakan
APD
• Kolaborasi pemberian
anti
mikrobakterial
|
• Selama periode waktu
ini
potensial
komplikasi fatal
dapat
terjadi
• Perubahan karakteristik
sputum
menunjukan
perbaikan
pneumonia
atau
terjadinya infeksi
skunder
• Organisme yang mudah
menular
dapat ditularkan
melalui
kontak langsung.
Teknik
mencuci tangan
penting
dalam
mengurangi
transian
lapisan
luar kulit dan
menurunkan
penyebaran
/ tambahan
infeksi
• Obat ini digunakan
untuk
membunuh
kebanyakan
mikrobial
pneumonia
|
4
|
Intoleran
aktifitas b.d
kelemahan,
ketidak
seimbangan
antara suplai
dan
kebutuhan O2
|
Peningkatan
aktifitas dengan
kriteria
hasil:
o
Menunjukan peningkatan
toleransi
terhadap aktivitas
o
Tanda vital dalam rentang
normal
|
• Evaluasi respon pasien
terhadap
aktivitas, catat
laporan
dispnea,
peningkatan
kelemahan
• Berikan lingkungan
tenang
dan
batasi pengunjung
selama
fase akut sesuai
indikasi
• Bantu pasien memilih
posisi
nyaman
untuk istirahat/
tidur
• Bantu perawatan diri
yang
tidak
dapat dilakukan pasien
|
• Menetapkan kemampuan
/
kebutuhan pasien
• Menurunkan stress dan
rangsangan
berlebihan,
meningkatkan
istirahat
• Tirah baring dipertahan
kan
untuk menurunkan
kebutuhan
metabolik,
menghemat
energi untuk
penyembuhan
• Meminimalkan kelelahan
dan
membantu
keseimbangan
suplai dan
kebutuhan
O2
|
5
|
Nyeri
b.d inflamasi
parenkim
paru, batuk
menetap
|
Nyeri
terkontrol dengan kriteria
hasil:
o
Menyatakan nyeri hilang atau
terkontrol
o
Menunjukan rileks, peningkatan
aktifitas
dengan tepat
|
• Tentukan karakteristik
nyeri
misalnya
tajam, konstan,
ditusuk.
Selidiki perubahan
karakter/
lokasi / intensitas
nyeri
• Pantau tanda-tanda
vital
• Kolaborasi pemberian
analgesik
dan antitusif
|
• Nyeri dada biasanya ada
dalam
beberapa derajat
pada
pneumonia
• Perubahan frekuensi
jantung/TD
menunjukan
bahwa
pasien mengalami
nyeri
• Obat ini dapat
digunakan
untuk
menekan batuk
nonproduktif
atau
menurunkan
mukosa
berlebihan,
meningkatkan
kenyamanan
|
6
|
Gangguan
pemenuhan
kurang
dari kebutuhan
tubuh
b.d peningkatan
kebutuhan
metabolik
sekunder,
anoreksia,
distensi
abdomen
|
Kebutuhan
nutrisi pasien
terpenuhi
selama perawatan
dengan
kriteria hasil:
o
Menunjukan peningkatan berat
badan
o Menunjukan
peningkatan nafsu
makan
o
Makan habis 1 porsi
o
Tidak ada mual muntah
|
• Auskultasi bising usus
• Berikan makanan porsi
kecil
dengan
frekuensi sering
• Sajikan makanan dalam
keadaan
hangat
• Berikan perawatan mulut
• Timbang berat badan setiap
hari
|
• Bising usus mungkin
menurun
bila proses
infeksi
berat
• Meningkatkan masukan
meskipun
nafsu makan
lambat
untuk kembali
• Mengurangi rasa mual
• Menghilang rasa tidak
enak
dan bau mulut
• Mengetahui
perkembanganm
status
nutrisi
|
7
|
Resiko
tinggi kekurangan
volume
cairan berlebihan
b.d
kehilangan cairan
berlebihan
(demam,
berkeringat
banyak,
muntah,
hiperventilasi)
|
Kebutuhan
volume cairan tubuh
terpenuhi
dengan kriteria hasil:
o
Membran mukosa lembab
o
Turgor kulit baik
o
Pengisian kapiler kurang dari 3
detik
o
Tanda-tanda vital stabil
|
• Kaji tanda-tanda vital
setiap
4 jam
• Kaji turgor kulit,
kelembaban
membran
mukosa
(bibir dan lidah)
• Kaji adanya mual/muntah
• Tingkatkan pemasukan
cairan
minimal 2500 ml/
sesuai
kondisi pasien
• Pantau intake dan
output
cairan
|
• Peningkatan suhu atau
demam
meningkatkan
laju
metabolik melalui
evaporasi
• Merupakan indikator
langsung
keadekuatan
volume
cairan
• Adanya gejala ini
menurunkan
masukan
oral
• Menurunkan resiko
dehidrasi
|
BAB IV
PENUTUP
PENUTUP
Flu burung (avian
influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influensa
yang ditularkan oleh unggas. Virus influensa terdiri dari beberapa tipe, antara
lain tipe A, tipe B dan tipe C. Influensa tipe A terdiri dari beberapa strain,
antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain. Influensa A (H5N1) merupakan
penyebab wabah flu burung di Hongkong, Vietnam, Thailand, dan Jepang. Di
Vietnam dan Thailand juga menyerang pada manusia dengan delapan kasus
diantaranya meninggal.
KRITIK
DAN SARAN
Kami sadar atas
keterbatasan pengetahuan kami. Untuk itu besar harapan bagi kami atas kritik
dan saran dari pembaca guna perbaikan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Aditama TG. Flu Burung di Manusia Edisi 2. UI Press. Jakarta 2006.
2. Departemen Kesehatan, SK Menkes 1371/Menkes/ SK/IX/2005 tentang
Pedoman Penanggulangan Flu Burung (Avian Influenza) Pada Manusia.
3. World Health Organization (WHO), “WHO Current Phase of Pandemic Alert”, http://www.who.gov
diakses pada tanggal 6 Januari 2007
4. Department of Health and Human Services Centers for Disease
Control and Prevention, “CDC Recommends
against the Use of Amantadine and Rimantadine for the Treatment or Prophylaxis
of Influenza in the United States during the 2005–06 Influenza Season”,
http://www.cdc.gov/flu/diakses pada tanggal 9 Agustus 2006.
5. Department of Health and Human Services Centers for Disease
Control and Prevention,
http://www.cdc.gov/flu/ diakses pada tanggal 30 Juni 2006
6. World Health Organization (WHO), http://www.who.gov/guidelines for investigation of human cases
of avian influenza A (H5N1),diakses pada tanggal 20 Januari 2007.
7. Pusat Informasi Penyakit Infeksi “Flu Burung (Standar Prosedur);
Prosedur Tetap Penanganan Penderita Flu Burung di RSPI – Prof Sulianti Saroso”,
2006
8. Kandun IN, Wibisono H, Sedyaningsih ER, Yusharmen, Purba W et al.
Three Indonesian Clusters of H5N1 Virus Infection in 2005. N Engl J Med 2006;
355: 2186-2194.
9. Kate Farthing,PharmD, BCPS, et al, Drug Facts and Comparisons,
Pocket Version 2007, Wolters Kluwer Health, Missouri, USA, 2007, halaman
1054-1058.
10. The Writing Commitee of the World Health Organization (WHO) Consultation
on Human Influenza A/H5. Avian Influenza A (H5N1) Infections in Humans. N
Engl J Med 2005 halaman 353, 1374-1385.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar